Profil Desa


LEGENDA DESA NAMPIREJO

SEJARA DESA NAMPIREJO

 

Desa Nampirejo dibuka masa pejajah Belanda pada tanggaal 05 April 1940 dan pada waktu itu sepanjang kita memandang hanyalah hutan belantara yang nampak dalam pandangan seseorang.

 

Seiring dengan nyanyian burung dan suara binatang buas, pada hari dan tanggal itu juga  terlihat dengan langkah yang pasti semangat yang membara demi memperjuangkan nasib ingin menambah keadaan yang ada, maka datanglah serombongan angkatan orang-orang kolonisasi dari Jawa Tengah yang masing-masing berasal dari Temanggung sebanyak 30 Kepala Keluarga dari Kabupaten Kutoarjo sebanyak 31 KK dan berasal dari daerah Istimewa Jogjakarta sebanyak 31 KK yang mana semuanya dipimpin oleh Bp. Joyo Diwiryo. Melihat keadaan yang belum ada rumah satupun maka rombongan tersebut ditampung di sebuah bedeng. Satu tahun waktu telah berlalu rombongan kolonisasi dari Jawa tersebut bekerja keras melalang buana  di tengah hutan belantara, maka dengan tekat yang tinggi di sertai rasa persatuan ke gotongroyongan yang dipimpinan Bp.Joyo Diwiryo, sehinga rakyat merasa tentram,damai dan aman. Setelah selama satu tahun Bp.Joyo Diwiryo memipin rombongan kolonisasi, maka beliau pindah di Kecamatan Sekampung, untuk itu sebagai pimpinan di serahkan kepada Bp.Kasto Dikromo.

 

Untuk selanjutnya, melihat keadaan hutan yang ada disitu tergambar kehidupan yang menjajikan, rombongan kolonisasi yang sudah berada dibedeng yang berpindah kedesa Nampirejo sebanyak 36 Kepala Keluaraga yang ditempatkan di desa Nampirejo sebelah timur yang dipelopori atau dipimpin oleh Bapak Bayan MERTO  PAWIRO.

 

Selanjutnya pada jaman penjajah Jepang pada tahun 1942 Masehi datanglah Rombongan transmigasi yang berasal dari Jawa Tengan sebanyak 50 Kepala Keluaraga, rombongan tersebut ditempatkan dipedukuhan yang dipimpin oleh bapak bayang SASTRO REJO,warga berada pada pedukuhan tersebut hanya selama 3 tahun ,selama tiga tahun terjadi suatu wabah penyakit,sehingga banyak warga pada saat itu meninggal dunia,sehingga sisa dari warga yang masih hidup berpindah tempat mengosongkan pedukuhan tersebut.

 

Perang Belanda terjadi pada tahun 1947 dan pada jaman belanda didesa Nampirejo terdapat perpindahan Markas besar TNI yang berasal dari Metro dan markas pada saat itu dipimpin moleh Bapak Letnan KOLONEL HARUN SUMARTO. Perpindahan Markas TNI tersebut belangsung lebih kurang selama 60 .dan pada saat itu Bapak KARIYO REJO  seorang Kolonisasi sebagai pembantu dapur umum atau Stap yang bertempat di rumah Bapak KARDI. Dan tepatnya pada hari kamis pahing tanggal 15 maret tahun 1947 Belanda menyerbu markas yang berada di desanampirejo,peristiwa tersebut terjadi pada pagi hari yaitu menjelang waktu Subuh,gerakan belanda sudah terbaca oleh penghuni markas yang ada,sehinnga penyerbuat belanda sia-sia karena keadaan markas sudah kosong. Melihat keadaan markas kosong maka Belanda marah besar sehingga sebagian   rumah warga yang ada menjadi sasrannya ,adapun rumah yang menjadi sasaran kemarahan yaitu diantaranya rumah Bpk. KARDI,rumah Bpk SOMO SATINO,rumah Bpk MERTO PAWIRI.rumah Bpk DARMO WIJOYO.rumah bpk MARZUKI dan rumah Bpk YASEN.


NAMPIREJO